Nikmat TuhanMu Manakah yang Engkau Dustakan?

Semilir angin menerpa jilbab putih Syifara yang meneduhkan renungan diantara gesekan dedaunan dan iringan syair merdu bacaan Qur’an anak-anak TPA masjid Al-Mujahirin. Syifara sebagai pengurus remaja masjid saat itu diminta membimbing anak-anak seusia TK hingga SD untuk membaca Iqra’ maupun Al Qur’an yang terbagi dalam kelompok-kelompok kecil. Agaknya ia begitu ragu ketika diminta membimbing bacaan anak-anak tersebut.

***

“Ya Allah, mbak saya ini masih banyak belajar belum fasih bacaan Al-Qur’an. Bahkan dibandingkan pengurus masjid lain mungkin hanya saya yang tak bisa apa-apa, malu saya”, sanggahku.

“Ayolah kamu lihat peserta TPA kini kian bertambah dari tahun lalu. Sekarang saja tercatat sekitar 100 anak sedangkan pengurus inti hanya ada 5 orang pengurus anggota 10 orang bukankah sangat minim sekali. Untuk merekrut anggota barupun belum terlaksana. Aku percaya kamu bisa, hanya membimbing bacaannya”, bujuk Mbak Naima.

“Tapi mbak saya belum begitu paham mengenai mahraj dan tajwid,” tolakku.

“Bantu kami, Syif” timpal mbak Hesti.

Terkadang aku malu terhadap diriku sendiri, kuasa Allah memberiku anugerah wajah nan cantik tetapi takwaku tak sebanding. Ingin rasanya menghancurkan cermin dihadapanku ini bukan karena akhlakku yang kurang baik tetapi ketidaksempurnaanku yang selalu orang lain anggap sebagai sosok sempurna sebatas fisik atau akademik. Hatiku makin dipenuhi belenggu luput salah apalagi belum pantas bersanding dengan mereka yang shalih. Aku sedang mempelajari bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik. Tiap kali melangkahkan kaki dirumah suci Allah sungguh terasa tentram apalagi ketika semilir angin lembut menerpaku diikuti lantunan ayat suci Al-Qur’an yang membuatku menitihkan air mata, indah sekali. Bahkan dari kejauhan aku melihat seorang gadis yang membacakannya penuh penghayatan disertai bacaan tartil nan merdu. Aku malu sekali jika semata-mata perhiasanku hanyalah fisik bukanlah hati yang terus kubentuk sedemikian indahnya agar sepadan dengan rupa yang Allah anugerahkan kepadaku.

“Gimana Syif, mau kan?” tanya mbak Naima lagi.

“Insyaallah mbak akan saya bantu sebisa saya, lantas saya membimbing bacaan Al-Qur’an anak kelas berapa ya?” tanyaku berusaha membuang pikiranku tadi.

“Anak kelas 1-3 SD ada 6 anak kamu membimbing kelompok Ummu Salamah” jelas mbak Naima.

***

“Assalammualaikum adek-adek” sapaku ramah sebagai pembuka.

“Waikumsalam. Mbak ini baru yaa kayaknya kemarin-kemarin ndak lihat”

“Iya dek, saya yang akan membimbing bacaan Al-Qur’an adek-adek dikelompok ini, nama saya Syifara”

“Lho mbak Syifara ini udah khatam Al-Qur’an?” tanya salah seorang anak.

“Eemm Alhamdulillah sudah”

“Kok jawabnya agak meragukan ya..” tanya anak itu lagi.

“Eh dek Aliya jangan gitu mbak syifara untuk sementara waktu menggantikan mbak Khaira dalam membimbing kalian, dihormati yaa” Timpal Mbak Denaya

Semua menggangguk dengan ramah.

“Mbak kan udah perkenalan sekarang kalian yaah sebutkan nama kalian satu persatu”

“Zahra… Aisya…, Khumaya.., Aliya.., Laila…, Hifaya…”

“Nah, sekarang ngajinya langsung dimulai yaa mulai taawud bersama dilanjut membaca ayat lanjutan yang sebelumnya sudah kalian baca secara bergilir dimulai dari Hifaya sampai Zahra”

“Berapa ayat mbak?”

“Emm biasanya mbak Khaira bagaimana?”

“Sampai ruku’ ”

“Yasudahlah begitu saja ayoo dimulai”

Ini pertama kalinya aku membimbing anak-anak TPA. Mereka yang jauh dari usiaku ini sangat rajin mempelajari Al-Quran meskipun beberapa anak masih terbata dalam membaca ayat per ayat Al-Qur’an. Sedang aku terlalu lama melupakan bila hati ini memiliki satu sudut penyejuk hati bertulis teman sejati seumur hidup, ialah Al-Qur’an. Tetapi sungguh kesibukkan duniawi menutup mata hati yang sekian lama terkurung dalam hampa. Dimana letak ketentraman itu saat sedikit demi sedikit menjauh dari pedoman dan peganganku selama ini. Aku malu sekali. Sampai-sampai salah seorang dari mereka menegurku, “Mbak Syifara kok sama sekali nggak benerin bacaan kita kan belum tentu benar. Apa mbak Syifara belum bisa baca Al-Qur’an?” Aku hanya tersenyum tipis menutupi rasa maluku “Bukan begitu, mungkin metode mbak berbeda dengan Mbak Khaira yang dengan detail memperbaiki bacaan kalian kalau mbak diakhir segmen. Jadi secara keseluruhan bacaan kalian baik memang ada yang masih terbata itu mafhum. Hanya penekanan saja jika ada bacaan mim nun bertemu qalqalah dibaca mendengung dan untuk bacaan idhar diperjelas lagi agar nampak, yasudah itu dulu yaa adek-adek” jelasku.

Aku menghela napas panjang, pertanyaan-pertanyaan melambung ke udara lantas mendarat disebagian memori kepalaku. Sudah lama sekali aku tak menyentuh mushaf itu sudah lama juga bibirku kering tak melantunkan ayat Al-Qur’an. Bagimana bisa sebagian hatiku tetap saja berdiam sementara sebagian lain merasa kacau. Ampunilah hamba-Mu ini Ya Allah…

“Nah, syif gimana tadi lancar kan?” tanya Mbak Hesti.

“Emm iya mbak Alhamdulillah” jawabku tenang.

“Oh iya besok kegiatan akhir kita adalah kajian ukhuwah jadi seperti agenda yang sebelumnya akan ada games ketangkasan diselingi sedikit tausiyah dan diakhiri tukar hadiah antara panitia dengan peserta. Jadi seluruh panitia juga menyiapkan hadiah untuk anggota dan peserta. Sedangkan peserta menyiapkan hadiah untuk panitia dan peserta sendiri lalu ditukarkan setelah semua terkumpul” jelas Ardan ketua panitia kegiatan.

Semua panitia dan peserta saling beranggukan yang berarti paham dengan penjelasan Ardan saat berakhirnya kegiatan TPA. Maklumlah aku memang masih terlalu awam menjadi pengurus masjid dan pertama kalinya tergabung dalam panitia kegiatan kerohanian dilingkungan rumah. Hanya saja ucapan anak tadi seolah menampar keras hatiku “Mbak Syifara ini udah khatam Al Qur’an?” “Mbak Syirafa kok sama sekali nggak benerin bacaan kita kan belum tentu benar. Apa mbak Syifara belum bisa baca Al-Qur’an?”

Hanyut dalam renungan sesaat ditengah senja. Langit biru telah berganti menjadi jingga lalu memerah hingga padam diikuti tumbangnya mentari. Aku berjalan pulang sendiri masih dipenuhi pertanyaan-pertanyaan tadi yang melingkupi otakku, membolak balikkan mata pikiranku kemana selama ini aku pergi? Berusaha menjauh dari-Nya? Berusaha melupakan-Nya? Atau berusaha tak mengenal-Nya padahal Ia teramat baik memberiku Rahmat nan berlimpah setiap harinya segala usaha kerja kerasku selalu berbuah manis, kegagalan mana yang aku dapatkan sedangkan Allah selalu memberiku jalan kemudahan tetapi mengapa aku tak pernah menyadari. Salah satu yang kulupakan selama ini ketika waktuku kuhabiskan untuk menyibukkan diri waktu untuk Allah hanya sebatas ibadah sholat sedangkan mengaji jangankan setiap hari seminggu bahkan sebulanpun jarang aku menyentuh kitab suci itu mungkin sekali dua kali.  Gelegar petir menyambar sebagian hati yang siap rapuh. Hamba macam apa aku ini?

***

Pagi ini langit cerah bahkan mataharipun beranjak menyinari bumi dengan kehangatan. Rerumputan saling bergesekan satu dengan lainnya mengiringi terpaan angin kecil. Sorak sorai ceria anak-anak TPA mulai terdengar riuh, tiada raut kesedihan yang terpancar. Suka cita tergambar dari lengkung senyum dan tawa mereka. Kegiatan game kecil-kecilan ala panitia segera dimulai rasanya mereka sudah tidak sabaran. Sesekali aku menangkap garis senyum tawa mereka yang melambung ke udara, menang kalah urusan akhir yang terpenting memang kekompakan tetapi ada saja salah satu atau dua yang tidak mengerti hingga selalu dianggap salah oleh teman satu kelompoknya. Meskipun demikian mereka tetap menikmati suasana penuh keakraban mengeratkan ukhuwah antar sesama agar pribadi mereka terbentuk karena nantinya merekalah para panji-panji menebar Islam yang berlomba-lomba mengamalkan kebaikan. Selang beberapa jam berlalu akhirnya kegiatan berakhir dan ditutup dengan istirahat diselingi sedikit tausiyah lantas diikuti tukar hadiah antar peserta. Sedangkan untuk panitia seusai kegiatan sekaligus rapat evaluasi. Semua tampak senang saling timpal menimpali canda bahkan beberapa diantaranya dengan lantangnya mengatakan hadiah itu darinya, “Eh itu punyaku lho disimpan yaa”.

Kegiatan diakhiri penutupan dari ketua panitia, semua peserta antusias kemudian bergegas pulang kerumahnya masing-masing. Waktunya acara untuk panitia seperti yang ditunggu-tunggu tukar hadiah baik dari peserta maupun panitia sendiri semua dibagi secara acak tanpa tahu milik siapa karena hadiah tersebut dibungkus dengan kertas dan bentuk bingkisan senada pula. Mungkin hanya beberapa orang saja yang mengetahui. Seluruh panitia mendapat sama rata masing-masing dua bingkisan satu dari peserta dan satu lainnya dari panitia kemudian diminta membuka hadiah tersebut secara bersamaan. Maka terungkaplah isi dibalik kertas senada tersebut, panitia yang memberikan barang apapun hanya diam tidak seperti anak-anak tadi yang saling menimpali barang miliknya. Apa yang aku dapatkan sungguh diluar dugaanku. Entah yang mana dari peserta dan panitia, ini hadiah istimewa yang membuat tangis bilik hatiku kian pecah satu buah mushaf kecil nan cantik ditambah jilbab bermotif bunga. Lebih mengesankan lagi pada bingkisan mushaf tertulis pesan kecil apalagi cukup mencengangkan entah kebetulan atau tidak pesan itu untukku.

Untuk ukhti Syifara..

Ketika hatimu merasa resah Ingatlah Allah. Ketika lisanmu tak dapat menjawab pertanyaan hati tenangkanlah, bacalah Al-Qur’an. Sungguh perkara yang terbaik adalah selalu menjalankan kewajiban ditengah kesibukkan dunia. tidak hanya manusia yang merindukan lantunan merdu ayat Qur’an yang engkau lisankan dari bibirmu tetapi para malaikat yang ingin mencatat pahala juga Allah, semoga bermanfaat. Semangat ukhti…

Dari …”

Sedangkan jilbab bermotif bunga, hadiah lain juga berisikan pesan kecil.

“Ulurkan jilbabmu jagalah ia sebagai pakaian takwamu hiasilah dengan kebaikan. Bukan ukuran sebagaimana engkau cantik secara fisik tetapi sebagaimana hatimu mampu memancarkan kecantikan tersebut kepada orang sekitar…”

Tidak ada nama pengirim tetapi aku rasa orang yang memberi mushaf ini tak lain pasti salah satu panitia entah akhwat atau ikhwan. Semua pasang mata yang menyaksikanku membaca sepucuk pesan kecil itu. “Subhanallah semoga dek Syifara bisa menjaga amanah tersebut”, sahut mas Irsyad.

“Nah betul itu, eemm tapi kok keliatan terharu gitu kenapa dek?” tanya Mbak Hesti.

“Enggak kok mbak pesannya begitu menyentuh sekali. Selama ini saya banyak khilaf” jawabku perlahan.

“Itu berarti Allah membukakan hatimu. Allah masih menuntun jalanmu kearah kebenaran tidak membiarkanmu jauh dari-Nya. Bersyukurlah” tambah Mbak Naima.

“Tetapi kenapa bisa sekebetulan ini?” tanyaku bingung.

“Rencana pemberi mushaf tersebut diketahui Allah dan mungkin memang semestinya itu diperuntukkan untukkmu lihat saja pesan tersebut tertera nama terangmu” terang mbak Hesti.

“Iya bisa jadi mbak…” jawabku sambil mengangguk mengerti.

Kejadian ini sekali lagi menampar sebagian hati yang telah mati rasa karena sedikit ditempa cahaya rohani. Namun satu pelajaran berharga yang aku dapatkan ketika pembatas mushaf tersebut terbuka langsung pada surah Ar-Rahman seketika air mataku menggenang pada kelopak mata dan siap jatuh membasahi pipi saat mulai membaca perlahan lantas meresapi setiap ayatnya.

Fabi’ayyi ‘alaa i’rabbikumaa tukadzibaanMaka nikmat Tuhan Kamu yang manakah yang kamu dustakan. Rabbul masyriqaani warabbulmagri baiin- Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya…

Deras air mata ini bagaikan anak sungai yang mengalir. Selama ini aku lupa selama ini Allah tiada henti memberiku segala nikmat sejak terbangun dari lelap hingga terlelap lagi lantas seterusnya nikmat Allah tiada terputus tetapi mengapa Hamba ini lalai urusan tersebut mulai sedikit demi sedikit terkikis keteguhan hatinya. Hingga meluangkan beberapa menit untuk melantunkan kitab Al-Qur’an saja enggan. Nikmat manakah yang kudustakan selama ini? Allah selalu ingatkanku karena begitu sayang rasa cinta-Nya jika Hamba yang satu ini perlahan meninggalkan-Nya. Sesekali pernahkah berfikir cinta Allah itu maha besar tetapi manusia kadang tak menyadari justru terlalu menghambakan cinta terhadap manusia lain dan ia dibutakan oleh cinta tersebut sedangkan cinta Allah tak pernah ia balas sekalipun Allah tiada henti memberikan semua rasa cinta-Nya tanpa terkecuali kepada seluruh Hamba yang diciptakan-Nya. Aku memang tiada sempurna langkahku sewaktu-waktu dapat Allah kunci hingga aku tak mampu berlari kuat menembus batas impianku. Tetapi Allah membiarkanku berlari kencang menemui gerbang mimpi-mimpi yang kutulis sekian lama. Janjiku, aku tak kan lagi menyia-nyiakan waktuku hanya menyibukkan urusan dunia. Malu sekali jika saat ini banyak anak-anak jauh dibawah usiaku sudah menjadi penghafal Qur’an bahkan bacaannya sungguh menjadi oase tersendiri ditengah kegersangan hati.

*** ***

Advertisements

Melepas Ramadhan Meraih 1 Syawal “Happy Eid Mubarak”

Allah memberikan waktu setahun dalam 12 bulan merupakan suatu ketetapan. Salah satu bulan tersebut memiliki keistimewaan tersendiri di mana menjadi penyempurna keseluruhan bulan. Yaa.. itulah bulan Ramadhan bulan penuh berkah dan rahmat dari Allah SWT bahkan menjadi bulan pengampunan atas segala dosa-dosa yang telah diperbuat. Karena bulan istimewa tersebut hanya sekali dalam setahun maka setiap insan umat muslim diberi keleluasaan untuk saling memperbanyak ibadah untuk memperoleh banyak pahala berlimpah. Namun terkadang masih menjadi pertanyaan ketika Ramadhan tiba akankah berakhir atas niat kesadaran atau kesekedaran? Niat kesadaran berarti dengan hati tulus memaknai Ramadhan sebagai salah satu kewajiban setiap umat muslim untuk menjalankan Ibadah puasa selama satu bulan penuh. Kesadaran tersebut membawa pemikiran bahwa Allah SWT masih memberinya usia untuk terus merasakan kehadiran Ramadhan yang penuh berkah sehingga semangat untuk menjadi pribadi berkualitas bukan hanya sewaktu bulan suci datang tetapi terus menerus. Sedangkan kesekedaran berarti dalam perkara fisik ia menjalankan ibadah puasa namun lain pihak tujuannya hanya sekedar menjalankan aktivitas ibadah puasa dengan seadanya . Orang-orang yang tadinya gencar berbuat mungkar lahir pada bulan Ramadhan disibukkan dengan melakukan banyak kebaikan. Marak orang-orang giat berbuat baik ini positif tetapi jika hanya diniatkan pada waktu bulan Ramadhan kemudian dilupakan kemudian diulangi lagi apakah itu hanya kesekedaran jika selepas bulan Ramadhan tetap melakukan hal kemungkaran seakan-akan lupa yang iingatkan sejenak tetapi tiada membekas.

Bulan Ramadhan telah berakhir digantikan oleh 1 Syawal. Hari besar ini jangan dimaknai untuk membiasakan kegiatan bermaafan antar sesama umat hanya dalam bulan Ramadhan atau diistilahkan sebagai “tradisi”. Lain cerita ketika kita menyadari adanya kesalahan terhadap orang lain segeralah meminta maaf bukan menunggu saat lebaran. Begitu pula dengan silaturahmi, seperti yang dikatakan dalam sebuah hadist bahwa menjalin silaturahmi mampu memperpanjang umur, Insyaallah… Maka ketika Allah memberi banyak kesempatan waktu, manusia dapat memanfaatkannya untuk menjalin ukhuwah islamiah agar tetap terjaga dan tidak terpecah karena islam mengajarkan perdamaian dan kerukunan antar sesama. Bulan Ramadhan diibaratkan umat muslim seperti seekor ulat penuh kelemahan lantas diharuskan ia untuk berpuasa, menahan diri.  Ketika tiba waktunya ia menjadi kepompong maka ia akan terlahir sebagai kupu-kupu nan indah sempurna. Begitu pula dengan umat muslim Allah SWT menahan dirinya dari segala godaan untuk menjalankan ibadah puasa bukan hanya fisik tetapi hati. Hati manusia ialah seonggok daging ibaratnya pula seperti kaca jika debu atau kotoran menempel tak pernah dibersihkan lama-kelamaan akan semakin mendangkal. Semoga tetap selalu menjadi pribadi yang terus giat memperbaiki diri dan kualitas imannya supaya Allah melimpahkan banyak berkah nan bermanfaat.

 

Ruangku dipenuhi rindu-rindu

Kian mengadu padu

Berbisik pada hati

ketika temu sapa harus segera pergi

meninggalkan setengah pelukan hangat

Dalam dekapan bulan Rahmat

Rembulan memancar pesona penuh agung

Siluetnya memantul diantara rindang pepohonan

Syahdu irama angin menerpa

Merdu dengung takbir kemenangan…

Kan Kutunggu kau kembali…

 

AK~ Magelang 27 Juli 2014

 

 if_10_by_memels-d2y9vjs

 

Politik dan Media : Penggiring Opini Publik

Media massa bergerak dalam pengolahan dan penyebaran informasi dari berbagai sumber bidang kehidupan. Begitu pula dengan agenda politik tahun ini mengenai pemilihan umum (pemilu). Maka yang menjadi permasalahan saat ini adalah ketika media massa dialihfungsikan untuk kepentingan golongan dalam berpolitik istilahnya penguasaan media massa. Media massa secara tidak langsung dijadikan sebagai budak siap melayani permintaan sang penguasa. Sehingga tidak salah jika bertebaran informasi pro dan kontra mengenai pemilu dan berita terkait dua calon presiden dan wakilnya yang berbeda-beda. Pemilihan umum presiden dan wakilnya telah dilaksanakan pada 9 Juli lalu hanya saja keputusan siapa yang bakal menduduki jabatan pengganti SBY belum dapat dipastikan karena hasil penentu adalah perhitungan resmi dari pihak KPU tanggal 22 Juli.

Agenda pemilihan presiden tanggal 9 Juli lalu merupakan agenda wajib dan pesta demokrasi rakyat dimana rakyat diberi keleluasaan dalam memilih presiden sesuai hati nuraninya. Namun, pada hari tersebut juga menuai banyak pernyataan dan pemberitaan yang saling bertolak belakang terlihat dari hasil quickcount lembaga-lembaga survei yang dipercaya memberi gambaran peluang kemenangan antara dua capres dan wakilnya. Sebab salah satu pihak mengguli dari pihak lain dan pihak lain juga mengguli pihak satunya. Inilah yang membuat dilema sebenarnya siapa presiden sesungguhnya? Lembaga survei mana yang benar dan salah serta terpercaya? Lembaga survei mana yang netral tanpa ada keberpihakan dan dsb. Oleh karena itu menimbulkan banyak pertanyaan ketika masing-masing calon saling mendeklarasikan kemenangannya. Padahal Lembaga survei yang dimintai melakukan perhitungan cepat hasil pemilu diberikan pembatasan maksimal dalam pengambilan sample. Otomatis tidak 100% hasil tersebut murni dan sah. Dilema perbedaan hasil quickcount ketika media massa seperti televisi sama-sama saling memberikan kadar informasi yang berbeda. Beginilah yang menyebabkan ketidaknetralan media massa yang mulai keruh dicampuri urusan politik.

Bagaimana dengan audiens? Pertama mari bahas mengenai kepekaan audiens dalam partisipasi pemilu. Ya kali ini memang berbeda dari tahun pemilu yang telah berlalu jika kebanyakan dari mereka melakukan golput. Sekarang mereka bersama-sama ikut berpartisipasi dalam menyuarakan pemilu. Rakyat Indonesia tersebar dari berbagai lapisan strata yang tingkatannya tidak bisa disamakan. Dengan demikian pola pikirnya pun juga berbeda. Negara tetangga menganggap orang-orang Indonesia itu ramah namun kelemahannya terkadang masih lugu mudah percaya terhadap sesuatu yang belum pasti ada benarnya. Jika demokrasi dijalankan atas asas Luberjurdil berdasarkan UUD dan Pancasila maka jika suatu pemilihan umum saja masih diwarnai serangan fajar dan beberapa kecurangan tersembunyi apakah tidak berpikiran kedepan bagaimana negara Indonesia jika dipimpin oleh pemimpin yang melalukan praktik dan taktik tertentu untuk menyedot suara rakyat sebesar-besarnya dengan cara salah tetapi rakyatnya secara tidak langsung tidak menyadari? Bagaimana bisa terjadi? Lihatlah media massa saat ini yang integritasnya sudah luntur karena keberpihakan terhadap salah satu calon, terpecah belah menjadi dua kubu. Politik merupakan suatu lingkup luas didalamnya tercipta bermacam gambaran penuh taktik dan strategi terselubung. Sehingga bagi siapapun yang tidak mengenali politik secara dalam hanya mampu memperhatikan sekilas ibarat air dipermukaan saja kelihatannya tenang padahal justru menyimpan sesuatu bukan mencoba menyelami lebih dalam sebernarnya apa yang menjadi tujuan politik tersebut. Awalnya air akan nampak jernih tetapi ketika coba diselami ternyata keruh itulah gambaran kehidupan politik. Apalagi dengan adanya media massa tentu saja ajang berpolitik menjadi lebih mudah dimanipulasi agar seolah-olah publik membenarkan pernyataan tersebut. Dengan demikian masyarakat Indonesia saat ini merasa tidak awam lagi mengenai politik padahal sesungguhnya ia belum mengerti bagaimana arti sebenarnya. Nah, apalagi jika suatu saat pilihannya tersebut terpilih tetapi tidak mampu mengemban tugas kemudian rakyat protes salah siapa yang mengelu-elukan, memilih dan merasa paling cocok membawa perubahan bangsa? Media dikerahkan secara tidak sadar menghipnotis audiens sehingga terciptalah kumpulan opini publik. Karena terus menerus mendapatkan terpaan media oleh sajian berita yang belum tentu dibenarkan malah seakan-akan memprovokasi pola pikir masyarakat sehingga menyebabkan keberpihakan rakyat dari pilihannya. Media penuh terkadang penuh rekayasa ibarat fatamorgana namun sebenarnya menyimpan seribu maksud didalamnya. Hanya saja masyarakat Indonesia mudah sekali terpengaruh dengan isu-isu apapun baik itu negatif atau positif tanpa menggunakan nalar apakah sebenarnya media berusaha menggiring opini publik atau menyampaikan informasi yang informatif.

Masing-masing stasiun televisi menampilkan hasil perhitungan quickcount yang berbeda belum lagi dua pasangan capres dan cawapres saling klaim kemenangan.  Hasil quickcount tersebut menyebabkan satu sisi pengaruh provokatif kepada audiens. Sehingga karena stasiun televisi menampilkan hasil hitung cepat suara yang tak sama disamping keberpihakan beberapa media akhirnya KPI meminta pemberhentian penayangan hasil qiuckcount pada layar kaca yang sangat bertolak belakang. Belum lagi fakta lapangan menyatakan bahwa ditemukan beberapa pelanggaran pemilu baik itu adanya kelebihan suara, intervensi massa pendukung capres cawapres, dsb yang telah disampaikan kepada bawaslu. Menariknya media massa, ukurannya mampu menembus seluruh lapisan masyarakat. Jika suatu masyarakat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok kecil media mana yang selalu dipergunakannya secara tidak langsung serapan pengaruh melingkupi pikirannya. Belum lagi ketika media mengemasnya menjadi sajian pemberitaan yang seolah-olah fakta secara real. Lama-kelamaan akan menggiring opini publik. Apalagi diperkuat dengan pemikirannya yang belum berkembang atau masih cenderung irrasional. Sehingga apapun yang menyudutkan capres dan cawapres pilihannya akan merasa tersinggung, ujung-ujungnya media sosial menjadi sasaran adu argumen. Maka salah satu taktik dalam politik media adalah pengiringan opini publik jika suatu saat terjadi kemungkinan yang mendesak mampu mengerahkan massa pendukungnya untuk menyuarakan hak-haknya entah karena pemikiran tersebut telah mendangkal dikepala sehingga untuk menerima hasil apapun nantinya tidak siap. Bukankah dalam sebuah ajang kompetisi apapun ada menang dan kalah? Kalau semua menginginkan kemenangan bagaimana negara ini jika dipimpin oleh 2 presiden? Karena tidak akan mungkin selain keduanya memiliki visi misi beserta kebijakan yang berbeda. Perhitungan suara resmi KPU akan dideklarasikan pada tanggal 22 Juli ini, pihak kepolisan beserta jajarannya telah dikerahkan untuk menjaga  ketat dan mengamankan jalannya perhitungan secara manual tersebut.

Inilah fenomena pesta demokrasi tahun 2014 sekaligus menjadi tahunnya media massa rasa politik. Pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bagaimana menyikapi pemberitaan dalam media massa mengenai pilpres. Kali ini tidak perlu memusingkan siapa presidennya, terpenting jika memang ia terbilang amanah pasti akan mengemban amanah rakyat sepenuhnya bukan sebaliknya. Dan bukan bersembunyi dibalik lindungan media massa yang dipenuhi pembohongan publik ya karena sebab penggiringan opini-opini ke masyarakat. Semoga lekas berakhirnya agenda pilpres media massa yang dirindukan kenetralannya serta konsistensinya akan kembali agar tetap menjadi kepercayaan dari publik.

Sajak Puisi : Gaza

large

Langit Merah

Langit Gaza merekah

Diantara dentuman-dentuman dasyat,

kian menghantam

Semburat merah menyala melalap bangunan

Api membara, kian panas

Hujan peluru berderai bak hamburan debu

Tangis mengoyak jiwa

Mungkinkah sedetik waktu dapat terhenti?

Jika kapanpun tentara zionis siap bawakan malaikat maut

 

Duka

Kepul asap membumbung tinggi

Hitam sedalam luka dan duka

Para Zionis kejam tiada ampun,

angkuh

Menindas, siap habisi jiwa yang melawan

Kalut duka menggumpal menyayat hati,

makin mencekam

Diantara gelimang mayat

Tanpa daya kaku dan beku

 

Bayi tak berdosa

Bombardir menimpa Gaza secara kasar

Hancur sudah bangunan jadi puing-puing

Tangis tumpah basahi wajah

Darah segar mengucur

Bayi-bayi tak berdosa itu rela dijemput

malaikat maut

Tiada mampu kembalikan nafas

Hilang nyawa, malang

Suara sirine meraung-raung

Ikut terseyok-seyok, pedih

Membawa jasad pulang ke pembaringan akhir

 

Pejuang Syahid

Sungguh jahannam

Dianggapnya manusia ibarat binatang

Begis, perlakuan para zionis

Pejuang-pejuang syahid datang

Ancaman mati bukanlah petaka

Matanya awas dan terjaga setiap detik

Demi tanah Gaza, demi agama Allah, demi sesama

 

Kasih Sayang-Nya berwujud Cinta

Kegelapan, ketakukan, kegelisahan hadir tanpa permisi

Mengiringi jerit tangis, kian pecah

Membuat luka-luka menganga

Tak kunjung terobati

Dimanakah kasih sayang-Nya?

Ketika air mata berlinang pada tiap sujud

Doa- doa menyimpul dalam barisan

Menguat tabah menguat iman

Maha Cinta Allah kepada Hamba-Nya

Ada dalam jengkal musibah

Pertolongan Allah kan segera menjemput…

 

AK~ Magelang, 11 Juli 2014

#SavePalestine #PrayForGaza #it’sabout #humanity

Tanah Gaza menangis. Diliputi suasana mencekam. Korban berjatuhan lebih banyak anak-anak dan perempuan. Bangunan seperti gedung pemerintahan, kepolisian hingga masjid-masjid dihancurkan oleh ledakan bom. Bayi-bayi tak berdosa tertimpa reruntuhan puing-puing. Semakin menggesek alunan biola kepedihan. Beserta luka yang menyayat sebagian hati. Sakit. Para zionis seakan haus darah berusaha melumpuhkan penduduk sekitar, mengancam kematian secara tiba-tiba. Rasa iba sekaligus prihatin amat terasa tapi dimanakah PBB yang seharusnya menjadi penengah antarnegara yang sedang berseteru? Bukankah Palestina merupakan salah satu dari anggotanya. Menyoal pada hakikat serangan dan musibah tersebut pandanglah secara luas, semua makhluk bumi dihadapan-Nya sama masalah agama, ras, dsb tidak perlu disinggung karena hakikatnya adalah rasa kemanusiaan. Hal paling menggusik jiwa ketika kita merasa simpati terhadap mereka, untuk mengulurkan tangan, meringankan beban. Mereka saudara kita rangkullah bersama. Jika tak mampu memberikan bantuan materiil maka tengadahkan kedua tangan, sisipkan satu doa untuk mereka dalam barisan sujud. Itu telah menjadi nilai positif. Semoga lekas Allah mengirimkan bantuan-Nya, menjaga tanah Gaza, dan melindungi penduduk sekitar. Jika kematian merupakan pilihan terbaik maka kematiannya syahid dihadapan Allah. Semoga Rahmat-Nya selalu berlimpah kepada mereka yang sedang berjuang sembari menguatkan iman dan tabah, Aamiin…

Indonesia Memilih : “Sikapi secara bijak Pemberitaan Pilpres pada Media Massa”

Indonesia merupakan negara hukum dan kesatuan yang menjalankan sistem demokrasi. Wujud demokrasi tersebut melalui pemilihan umum (pemilu) sebagai wadah partisipasi seluruh rakyat Indonesia. Saat ini rakyat dihadapkan oleh dua pilihan calon presiden dan wakilnya semua memiliki hak untuk memilih berdasarkan hati nurani. Kehendak hati nurani pula telah mendasarkan pada asas luberjurdil dalam demokrasi. Demokrasi Indonesia dilandasi oleh UUD 1945 dan pancasila terutama pada sila ke 4. Tahun 2014 ini memang begitu banyak hal menarik mengenai agenda pilpres 9 Juli mendatang yang selalu menjadi topik utama pada pemberitaan media massa. Kekuatan media massa menjadi salah satu pengaruh besar bagi audiens dalam menentukan pilihannya. Berbagai media massa saling sahut bersahutan menyajikan pemberitaan yang berbeda-beda. Tahun 2004 merupakan tonggak awal keberhasilan pemilihan umum secara demokratis diikuti penetapan kepemimpinan presiden selama 5 tahun dengan maksimal 2 kali periode masa jabatan.

Media massa sebagai jembatan informasi kepada publik memberikan kontribusi berupa berita-berita yang tersaji baik dalam program berita, media cetak hingga ranah media sosial seperti facebook, twitter, maupun berbagai situs online news. Salah satu sisi mata media massa adalah jangkauannya mampu mencakup seluruh lapisan masyarakat tak terbatas karena kini teknologi hadir secara canggih dan memudahkan dalam pengaksesan. Maka tidak salah jika media massa juga mampu menjadi alat propaganda politik, kepentingan golongan tertentu menjadikan media massa sebagai alat kemudi sekaligus bertujuan menanamkan pengaruh kepada audiens. Antara fakta atau pun opini terkadang masih bertolak belakang. Beberapa orang mengeluhkan fenomena berhamburannya informasi seperti dalam media sosial. Ibaratnya saat ini telah terjadi perang dunia maya di mana saling beradu pendapat, berdebat, hingga masalah serius saling menghujat tanpa berpikir secara realistis dan memandang dengan pemahaman yang luas.

Televisi merupakan media massa pemberi pengaruh paling besar dibandingkan media massa lain. Suatu tindakan tidak akan terjadi apabila sebelumnya tanpa ada sebab. Golongan kepentingan mempergunakan televisi karena dianggap cukup mampu menyampaikan maksud secara eskplisit dan implisit dari institusi media massa. Televisi adalah frekuensi milik publik artinya semua penayangan untuk kemanfaatan publik tetapi jika diwarnai dengan ketidaknetralan ditambah agenda setting media massa, berita yang tersaji bukanlah berunsur informatif dan berisi, akan semakin jauh dari kode etiknya malah menjerumus pada unsur provokatif serta keberpihakan kepada pilihan capres dan cawapres. Sejumlah stasiun televisi menampakkan keberpihakannya sejak dua bulan terakhir ini seakan-akan melahirkan dua kubu masing-masing saling saing bersaing merebut kuasa atas media massa. Televisi yang tergambar pada layar kaca hanya bisa berhitung maju satu dua atau mundur dua satu. Apakah stasiun televisi saat ini hanya ada dua saja bagaimana stasiun televisi lain? Terlihat bahwa dua stasiun televisi tersebut saling balas membalas tentang pemberitaan yang disajikan baik itu fakta atau bukan. Salah satu keuntungan mempergunakan media massa televisi terletak pada cakupan audiensnya jika satu audiens hanya melihat satu sisi dalam artian hanya stasiun televisi tersebut bukan yang lainnya serta mempercayai sepenuhnya pemberitaan yang disajikan maka dipastikan ia lebih banyak menerima pengaruh ketimbang menolak atau memilih pemberitaan lain untuk menambah referensinya. Oleh sebab itu, masalah yang ditimbulkan terjadi fanatisme pendukung capres satu dengan capres lainnya. Perdebatan kecil sering terdengar “Pilihan saya paling benar…” “Ah itu kan cuma dibuat-buat aja tidak benar…” “Nah saya setuju dengan itu…” “Bukan pilihan sayalah yang paling benar…”, dsb. Saya rasa jika audiens memiliki kepekaan dalam menyeleksi berita apapun tidak akan mudah begitu saja percaya. Maka perlu menyikapinya secara bijak tidak saling menciptakan kejelekan atau keburukan masing-masing capres. Meskipun pemberitaan seputar keburukan tersebut ada tujuan untuk memberi pencerahan sekaligus bahan referensi terhadap audiens dengan penilaian layak atau tidak. Oleh karenanya kadar sebuah berita dalam agenda politik nampak riuh satu sisi membela dan satu sisi menjatuhkan salah satu calon presiden namun lebih banyak media massa menampilkan sisi negatif. Sebenarnya tidak salah tetapi alangkah lebih baik jika media massa semakin memperjelas visi misi dan prestasi capres cawapres tersebut.  Media sendiri seharusnya memiliki tendensi membatasi pemberitaannya kepada publik untuk menghindari konflik atau kesalahpahaman. Karena informasi yang diterima oleh audiens secara tidak langsung memunculkan persepsi yang sama.

Media massa tidak hanya televisi saja sebab sangatlah luas. Bertebarannya situs online news, seperti, kompas, detik.com, viva news, sindo, dsb memperkaya daftar saluran informasi. Semakin hari mendekati pemilihan presiden semakin memperlihatkan keberpihakannya terhadap salah satu calon presiden melalui sajian berita. Belum lagi melalui postingan media sosial seperti facebook dan twitter yang men-share pemberitaan tersebut menuai banyak pro dan kontra. Bahkan ada beberapa pemberitaan media massa yang tidak memiliki relevansi dari segi judul dan isi. Media sosial sebagai  wadah yang menyedot perhatian lebih dengan cakupan luas terutama bagi kalangan anak muda. Kalangan anak muda diasumsikan sebagai sasaran audiens kritis dalam mempersepsikan berbagai pemberitaan media melalui sudut pandang yang berbeda-beda. Namun sangat disayangkan media sosial yang sebelumnya diyakini sebagai situs menjalin hubungan pertemanan harus diwarnai dengan ajang hujat menghujat atau praktik hibah yang berlebihan hingga terdapat konflik didalamnya. Seluruhnya saling membicarakan agenda politik terutama jelang pilpres untuk beberapa hari kedepan. Berita satu bersifat positif menampilkan sisi baik berita satunya bersifat negatif menampilkan sisi buruk calon presiden. Selain itu pula diwarnai dengan kampanye hitam dan kampanye negatif yang semakin memperkeruh suasana.  Kesuksesan pemberitaan media massa ketika sampai kepada audiens dipercaya sebagai wacana fakta yang sebenarnya padahal belum dapat dipastikan apakah berita tersebut fakta atau hanya penambahan-penambahan oleh institusi media itu sendiri. Audiens terkadang tidak menyadari bahwa konten berita sebenarnya merupakan realitas kedua yang berisi simbol-simbol tertentu. Belum lagi jika audiens tersebut tidak memiliki referensi yang cukup dalam memahami konten berita yang dimuat maka akan besar terkena terpaan pengaruh. Dalam media sosial sendiri seperti facebook fenomena meledaknya informasi seputar pilpres banyak dibicarakan tidak sedikit yang berkomentar baik memberikan pendapat yang baik atau malah memperdebatkan masing-masing pilihan, adu sindir antar media satu dengan lainnya, dsb.

Lantas jika media sekarang demikian? Tidakkah rindu akan netralitas media massa dalam memuat pemberitaan informatif? Berita informatif maksudnya berita yang berisikan manfaat tujuannya jelas memberi wawasan kepada audiens. Beberapa orang lelah dengan aktivitas pada situs jejaring sosial facebook di mana beranda lebih banyak dipenuhi dengan berita pilpres yang sulit dimengerti antara perlu dipercaya atau tidak jika kesemuanya memiliki kesempatan sama dalam menyampaikan informasi. Bagaimana cara untuk menyikapi fenomena media saat ini? Jadilah audiens cerdas yakni tidak secara instan mempercayai pemberitaan media bisa jadi berita tersebut bertujuan menjatuhkan salah satu capres, bisa saja bertujuan mempengaruhi opini publik terhadap pemberitaan yang dimuat, atau bisa saja tujuan membela salah satu capres agar merubah paradigma audiens seolah-olah memang faktanya demikian. Sangat sulit menang membedakan berita mana yang patut dijadikan wacana kedepan untuk pilihan presiden.

Beberapa waktu lalu telah dilaksanakan debat calon presiden dan wakilnya dari debat pertama hingga debat terakhir yang selesai diselenggarakan pada 5 Juli lalu. Beberapa topik-topik tertentu telah disinggung untuk memunculkan tanggapan dari para calon presiden. Sejumlah pernyataan dijelaskan secara lugas oleh masing-masing calon, tugas audiens jangan mempercayai atau menyetujui tanggapan tersebut begitu saja. Cermati kekurangan dari pernyataan yang diberikan ada unsur-unsur tertentu baik pengunaan bahasa, mimik, cara penyampaian, hingga arti dalam pernyataan tersebut. Perhatikan secara seksama dikuti dengan memperhatikan realita saat ini apakah relevan dengan situasi dan kondisi. Topik-topik menarik tersebut menjadi bahan pemikiran bagi presiden selanjutnya menggantikan kepemimpinan SBY untuk membangun Indonesia lebih baik dan berkualitas. Sudah pasti bagi calon presiden selanjutnya harus siap merancang dan melaksanakan agenda perubahan untuk Indonesia. Debat presiden dan wakilnya merupakan program acara untuk memberi pencerahan bagi rakyat Indonesia.

Hanya tinggal menghitung hari dari sekarang sampai pada hari Rabu 9 Juli ini, keputusan siapa yang menjadi presiden 5 tahun kedepan berada pada suara terbanyak rakyat selebihnya memang ada pula campur tangan Sang Kuasa dalam memberikan ketetapan. Rakyat menginginkan Indonesia lebih sejahtera diikuti berkurangnya permasalahan pokok yang belum terselesaikan. Menyoal pada pilihan semua berhak menentukan jangan menjadi sebuah perbedaan signifikan lantas menyulut kerusuhan. Yang terpenting siapapun presiden di masa 5 tahun mendatang mampu mengemban amanah dan dapat dipercaya menjalankan kepemimpinannya. Hari tenang seperti saat ini jadikan sebagai refleksi untuk berfikir jernih menjauh dari terpaan media massa yang terkadang membuat dilema. Tentukan pilihan Anda! Jadilah pemilih cerdas demi bangsa Indonesia. Karena pemilih cerdas tentunya mengerti siapa yang layak menempati kursi kepresidenan…

 Presiden-2014-Ilustrasi

prabowo-hatta-rajasa-berpeluang-menangkan-pilpres-2014-_20140418100956

Pilihan dan Tujuan: Siap Jadi Seseorang Berstatus Maha-siswa?

Setiap anak lulusan SMA aku yakin punya keinginan duduk dibangku kuliah bukan? Masak iya modal lulus SMA nggak punya bayangan mau kemana. Perlu dipertanyakan punya cita-cita nggak sih? Pertama aku ucapkan selamat bagi adik-adik yang keterima jalur SNMPTN di universitas dan prodi manapun. Bagi yang belum mendapat rejeki di SNMPTN masih ada kesempatan lain kok, jalan terbentang luas beserta peluang-peluang yang bisa diambil untuk kemungkinan mendapatkannya. Jalan kesuksesan setiap orang digariskan berbeda-beda. Sehingga akan menghasilkan cerita yang berbeda pula. Yakinlah bahwa kesuksesan akan direngkuh bersama-sama. Tetap bersabar, ujian-Nya padamu memiliki tujuan seberapa besar usaha yang akan kau lakukan.

Jangan jadikan sebuah kegagalan itu penyesalan. Ketika dalam benakmu berakhir kesudahan. Ingat seseorang yang ingin berjuang memperoleh kesuksesan mustahil tanpa merasakan kegagalan terlebih dahulu. Allah mempunyai jalan terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Percayalah…

Titik 0 km sebagai langkah awal menuju cita-citamu akan segera dimulai. Inilah fase merasakan zona baru, zona transisi dari status siswa SMA berseragam putih abu-abu beralih menjadi mahasiswa beralmamater. Pernah terbayang nggak gimana jadi anak kuliahan gimana kehidupannya? Inti yang perlu aku garis bawahi disini jangan pernah sekali-kali mempresepsikan bahwa kuliah itu bakal enak lebih leluasa jadwalnya bahkan terkesan bisa “hang out” kemana-mana sama temen. Kalo memang begitu apakah kuliahmu tujuannya itu setelah bertarung memperebutkan satu kursi perguruan tinggi negeri? Apalagi ditambah membayangkan seperti saat kalian melihat tayangan FTv di layar televisi? Salah besar. Tayangan dalam Ftv itu sekedar konstruksi media massa juga bumbu-bumbu tambahan cerita garapan sutradara. Jadi jangan pernah jadi korban penggemar FTv…

Kuliah itu jauh berbeda dari apapun yang pernah kalian pikirkan. Setidaknya kesiapan menghadapi dunia perkuliahan harus benar-benar matang. Sehingga nggak ngerasa kaget dan imbasnya bilang “kok kuliah kayak gini yaa?” Bagi mahasiswa baru akan ada ospek dan itu wajib sebagai pengenalan mengenai wilayah kampus dan apapun yang ada didalamnya. Utamanya sekarang perlu tanyakan pada hati kalian “aku kuliah buat apa? Ini pilihanku apa sekedar ikut-ikutan apa sekedar ngejar nilai buat ipk tinggi dan bergelar sarjana?”

Ini semacam introspeksi diri prinsip beserta komitmen untuk kuliah harus tertanam kuat agar tidak mudah terombang-ambing hanya karena omongan orang yang membuatmu tak lagi meneruskan perjuanganmu. Setiap anak memiliki tujuan yang berbeda-beda. Namun perlu ditekankan ambillah tujuan yang berbeda maka kalian akan mendapatkan ilmu secara sempurna hingga lulus nanti. Maksudnya apa sih? Aku yakin bagi mahasiswa baru yang menjejaki dunia perkuliahan pasti mengidam-idamkan memperoleh ipk paling nggak 3,5 atau lebih. Menurut pandanganku apakah modal ipk 3,5 menjamin kau bisa menguasai apa yang telah diajarkan dosen? Tidak sepenuhnya.

Terkadang ada mahasiswa terlalu mendambakan hasil diatas rata-rata sehingga terus-terusan mengejar nilai bahkan target cumlaude ia lakoni bagaimanapun caranya, hingga nilai bertulis “C” ia ubah bagaimana caranya menjadi “A” atau paling nggak “B”. Namun sebenarnya ketika ditanyakan pemahaman atas bahan perkuliahan yang diajarkan ia tak mampu memahaminya mungkin sebatas teori saja yang dia tekankan. Belajar itu memang perlu tetapi jangan pernah samakan cara belajarmu seperti semasa SMA dahulu sampai masuk dunia perkuliahan. Belajar yang benar-benar mengeksplorasi kekayaan pengetahuan, menggali analisa, dan terpenting memahami bukan hanya menghafal.

Setiap orang diberikan keleluasaan untuk memilih apapun dalam hidupnya sebagai keputusan akhir diantara berbagai pilihan maupun kesempatan. Siapa lakonnya nanti kalau bukan dirinya sendiri?

Dalam dunia perkuliahan kau bebas memilih untuk melakukan apapun semaumu, kenapa? Kau sudah dipandang dewasa oleh orang lain. Bukan berlabel siswa SMA lagi tetapi mahasiswa dari sebuah almamater perguruan tinggi. Yang terpenting kembali lagi pada tanggungjawab dan resiko yang kau ambil. Semua itu terserah. Tidak akan ada lagi seseorang yang peduli terhadap hasil nilaimu seperti seorang guru. Perkara nilai harus kau terima bagaimana tidak hasil usahamu selama mengikuti perkuliahan bukan? Selain itu pilihan antara kau harus mementingkan kegiatan kampus ketika kau berada dalam sebuah organisasi atau mengerjakan tugas-tugas kampus. Belajar menjadi mandiri dan bersikap bijak. Antara mana yang harus kau dahulukan atau kau tinggalkan begitu saja. Antara kau tetap nyaman pada zona amanmu yang monoton atau bergerak dalam putaran zona bebasmu. Tetaplah jadi diri sendiri, semua kau jalani dari awal hingga akhir menuju impian sesungguhnya.

Jika aku harus memaksakan sesuatu yang tidak aku suka. Sedang ia sekarang berpihak padaku apakah aku harus mengejar sesuatu yang kusukai hingga ia harus kurelakan dilepaskan?

Pilihan..Pilihan…Pilihan. Semua berlomba membuatmu dilema seketika dihadapkan 2 kemungkinan. Kau diterima diperguruan tinggi yang kau suka tetapi jurusanmu tidak kau suka. Salahkah bila memilih jalan atau peluang kesematan lain? Aku katakan tanyalah pada hati kecilmu ia lebih pandai mengerti perkara pilihan. Jika memang kau berusaha mendapatkannya dan saat titik perjuangan mencapai klimaks harapanmu berbuah manis, lekas bersyukur. Jalani pilihanmu itu dengan rasa suka.

Semua yang berawal dari rasa suka akan berkelanjutan menjadi rasa nyaman dan ringan berada pada situasi yang kau suka meskipun yang lain berpandangan berbeda terhadapmu.

Terkadang persoalan lain yang turut dipikirkan ketika orang lain beranggapan kau harus memilih jalan pilihan yang lain bukan sekarang yang kau dapatkan. Mereka boleh berkata apapun tetapi selama mereka hanya mampu berkata mampukah mereka menggantikan posisimu? Tidak. Siapa yang akan menjalani dunia perkuliahan kalau bukan kau sendiri. Pengertian dan pemahaman diikuti kemampuan meyakinkan aku rasa akan merubah sedikit jalan pemikiran mereka terhadapmu.

Oke, sekarang menuju pada tujuan kuliah mau sekedar hang out, ajang berfashion ria, sekedaran bukan kesadaran berlandas niat, atau tidak memiliki keinginan selanjutnya dsb. Silahkan kau pilih tujuanmu toh orang lain tidak akan menanyakannya, toh orang lain tak mencampuri urusan, toh orang lain punya urusan sendiri yang harus dipertanggungjawabkan. Jadikan tujuan kuliah sebagai pengabdian istilahnya “ojo dumeh sak karepe dewe” (jangan merasa seenaknya sendiri). Memang dibebaskan sebebas bebasnya dengan apapun yang kau ambil. Namun ingatkah bagaimana dunia perkuliahan masa lalu yang serba keterbatasan bukan seperti sekarang diperkaya dengan hadirnya kemudahan. Bahkan penulisan skripsi mumpuni karena adanya teknologi komputer, laptop, netbook, dsb. Bagaimana dahulu? Jika aku bertanya ini kepada orang tuaku “luweh rekasa” (lebih berat) nulis skripsi aja menggunakan mesin ketik, belum lagi karena belum berkembangnya komputer maupun alat simpan data semacam flashdisk atau harddisk mereka harus menuliskan bahan-bahan penyusunan skripsi. Hebat bukan? Saat ini memang penuh kemudahan. Namun, pikirkan kau kuliah menggunakan uang siapa kalau bukan orang tuamu. Kau kuliah akan tetap semaumu tanpa memikirkan betapa kau menjadi harapannya kelak dimasa depan. Sedikit saja kau beri kebahagiaan kepada orang tuamu nilainya akan membekas sekali. Maka kini luruskan niat masing-masing perkokoh tujuan. Ingatlah status kalian telah berganti menjadi mahasiswa. Terpandang sebagai agen perubahan. Ciptakan perubahan itu, generasi tua mengharapkan generasi muda yang tidak hanya berintelektual tetapi bermoral dan berbudi luhur..

Sukses selalu bagi kita semua…

Selamat Menempuh Perjalanan Awal Titik Kesuksesan

Tanggal 20 Mei lalu pengumuman hasil Ujian Nasional tingkat SMA, bukan? Bagaimana hasilnya? Tidak perlu dikhawatirkan selalu tanamkan rasa syukur yang pasti sudah mendapat predikat “LULUS”. Eitts tapi permasalahannya nilai yang diusahakan semaksimal mungkin malah hasilnya tak sesuai harapan gimana tuh? Hmm tapi ngerjain dengan prinsip kejujuran kan. Jangan berkecil hati itu sudah merupakan hadiah dari usahamu selama ini dari Allah SWT. Tetap semangat inilah masa dibukanya jalan terang menuju langkah awal menuju kesuksesan yang kalian idamkan. Kesuksesan disini bukan lagi tolok ukur nilai tetapi kembali kepada proses apapun yang dihayati.

Jika kita tidak mengenal proses bagaimana kita mengenal arti sebuah kesuksesan.

BoNC4h8IQAAoSk5

Masih banyak jiwa-jiwa dilanda dilema karena hasil Ujian Nasional kemarin. Yaa ada yang berkeluh kesah rata-rata tidak tembus hingga 9,00 oleh sebab satu mata pelajaran yang nilainya jatuh. Kemudian sedih dan kecewa. Menurut informasi yang aku dapet mungkin kalian juga tahu beberapa universitas memang ada yang menggunakan hasil Ujian Nasional untuk kelengkapan seleksi jalur SNMPTN. Seingetku nih UGM UNPAD UNDIP 10%-15% , UNS UNNES ITS 10%, UB UNJ 0%. Nggak masalah jika sudah menjadi jalan rejekimu tidak akan lari kemana. Percaya, kan? Sekedar intermezzo akupun pernah mengalami euforia kelulusan tahun lalu seneng satu sekolah bisa lulus bareng-bareng 100%. Walaupun pada saat ngeliat barisan nilai pada kolom secarik kertas bertuliskan “lulus” hanya mampu menghela nafas berkata dalam hati “mengapa hasilnya demikian, sudah kuusahakan sebisaku” apalagi ditambah satu dilema besar “kira-kira aku bakal dapet PTN nggak yaa, SNMPTN-ku gimana”. Bahkan sedikit bertanya lagi “nilai mereka saja lebih bagus dibandingkan aku. Apa yang perlu dibanggakan dari diriku ini kalau bekal ditangan berlabel “lulus Ujian Nasional saja” Bahkan mengutuk diri “Ibu bapak maaf tak membuatmu tersenyum lebar”.

Perkataan ibu benar “rejeki itu nggak akan lari kemana. Allah menyiapkan segala sesuatu paling terbaik untukmu, yakin. Jangan patah arang hanya karena nilai. Nilai itu percumah kau perjuangkan mati-matian kalau selepas itu semua tidak memahami pelajaran berharga yang kamu peroleh”

Apalagi jelang sehari sebelum pengumuman SNMPTN ketika bapak harus segera berangkat ke kota perantauan sempat bilang, “Doakan bapak selamat sampai tujuan. Apapun kabarnya nanti beritahu bapak, pokoknya Alhamdulillah aja” Mataku berkaca-kaca. Kalaupun belum rejekiku sisa waktu akan kuperjuangkan mengikuti ujian tes perguruan tinggi. Dan yaah memang perkataan ibu benar berakhir happy ending, Aku “LOLOS PTN” yang kuambil sebagai pilihan 1. Mendengar kabarku sontak suara bapak diujung telepon senang bahkan beliau berkata, “kau itu sungguh anak diluar dugaan. Bapak nggak ngerti dan selalu kamu itu ngasih kejutan tiba-tiba, Allah meringankanmu”

Sedikit dan singkat aja yaa, sekarang udah sesuai sama apa yang aku inginkan sedang menjalani dan mencoba menikmatinya. Jadi bagi kalian calon mahasiswa manapun nantinya Ujian Nasional jangan pernah dijadikan patokan utama, jalan masih terbentang luas bahkan kalian bisa memilihnya mau melangkah kemana. Titik awal sebuah kesuksesan itu nyata dihadapan untuk menuju gerbang utama (perguruan tinggi idaman) setelahnya perjalanan panjang ratusan mil menantimu. Lantas membawamu kearah cita-cita yang kau inginkan.

Setiap tahun ajang kelulusan SMA itu tetep sama bahkan sampai sekarang membudaya. Bagaimana enggak konvoi dan corat coret seragam pakai pilox aja masih berlaku. Duh semua ini nggak akan terjadi ketika kalian melakukan hal yang sama seperti yang kalian lihat ditelevisi ya ftv gitu habis lulusan langsung deh corat-coret seragam. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa itu adalah salah satu wujud rasa syukur.

BoJuhjwCEAEcf4T

 

Seperti itu wujud rasa syukur? Yakin bener? Apa nggak takut bahaya kan rawan kecelakaan? Sumpah ngeliat konvoi begituan nggak jauh beda sama orang mau kampanye. Menurut hematku, pandangan itu sebetulnya wujud rasa syukur yang salah. Lhoh kenapa? Aku jelaskan sebelum kalian menjalani Ujian Nasional makhluk Tuhan bernama manusia tiba-tiba menjadi baik bahkan seakan-akan ingin menebus kesalahannya, kemudian memohon sepenuh hati agar diluluskan. Pada akhirnya ketika mendapatkan hak yang diinginkan ritual sebelumnya terkikis, memuai, membumbung tinggi ibarat asap lantas diterpa angin dan sirna. Mau jadi apa? Kayak UN itu dianggap sebagai sesuatu hal kegelapan yang ditakuti sehingga saat lulus merasa kegelapan beralih dengan cahaya yang terang benderang. Tanpa memikirkan “setelah lulus aku akan kemana?” Memang tidak memikirkan hal simple seperti “Apakah kelulusanku akan menjadikanku pengangguran atau bersekolah atau bekerja ya” Jangan pernah menganggap selepas UN itu bebas seperti merpati lepas dari sangkar. Jangan juga menganggap dibenak kalian kuliah itu enak daripada SMA karena pulang lebih awal, jangan. Kalian belum tahu aja realitanya dan ngerasain gimana jadi mahasiswa. Paling tidak setelah lepas dan lulus SMA memiliki pandangan kearah kemajuan untuk lebih mendapatkan apa yang kalian inginkan. Pada mau membahagiakan kedua orang tua kalian kan? Berusahalah persembahkan bingkisan terindah diusia senjanya. Ingatlah betapa mereka dahulu yang merawatmu sejak dalam gendongan hingga saat ini, waktunya membalas jasa mereka. Meskipun tidak semuanya dapat kau balaskan. Yang terpenting adalah niat. Jadi hargailah hasil kelulusan ujianmu sebagai rasa syukur yang bertambah kepada-Nya bolehlah bersujud syukur. Setelah itu jangan lupa berbagi, sedekahkan seragammu untuk adek kelasmu malah lebih bermanfaat, bukan… ? Arti “Lulus jangan hanya Lulus saja tetapi Lulus yang bermanfaat dan barokah” Sehingga mau hasilnya seperti apapun sudah merasa lega karena usaha sendiri. Insyaallah untuk jalan kedepannya pun akan lebih dipermudah.

Aku memang tergolong masih minim soal kehidupan mahasiswa ya baru semester 2. Namun, cukup membuat napasku kadang lebih tersengal dibandingkan semasa sekolah dahulu. Saat duduk dibangku perkuliahan nanti kalian akan merasakan arti pendidikan yang sesungguhnya lebih keras dan berat. Bukan seperti SMA lagi menerima pelajaran seperti ibu menyuapi anaknya. Saat kuliah akan kontras sekali bukan hanya perihal sistem pengajarannya, beban tugas, ujian, hingga macam-macam kegiatan seminar, ukm, dsb akan berada dilingkungan bisa saja menguras pikiran saat harus memutuskan mana yang harus dipegang lebih dahulu atau kesemuanya dilepaskan begitu saja bahkan teman-teman kalian pun akan berbeda dengan karakter yang dibawa masing-masing, jadi persiapkanlah. Ini perjalanan awal menuju kesuksesanmu! *)